Presiden Adib Shishakli dan Bayang-Bayang Politik Suriah
Sosok Adib Shishakli kembali menjadi perbincangan dalam sejumlah narasi sejarah politik Suriah, terutama terkait pernyataannya yang kontroversial pada awal 1950-an dan akhir tragis hidupnya di pengasingan. Ia dikenal sebagai salah satu pemimpin militer yang paling berpengaruh pada masa awal kemerdekaan Suriah, sekaligus figur yang memicu perdebatan tajam lintas generasi.
Adib bin Hasan Shishakli lahir di Hama, Suriah, pada tahun 1909, dari keluarga Muslim Sunni pemilik tanah. Saat itu, wilayah Suriah masih berada di bawah kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah, sebelum akhirnya jatuh ke tangan Prancis setelah Perang Dunia I.
Menurut sumber-sumber sejarah Damaskus, Shishakli menempuh pendidikan di sekolah pertanian di Salamiyah, kemudian melanjutkan ke Akademi Militer Homs. Setelah lulus, ia diangkat menjadi perwira dalam “Tentara Timur” yang dibentuk oleh otoritas mandat Prancis di Suriah dan Lebanon.
Sejak awal karier militernya, Shishakli dikenal memiliki sikap nasionalis dan menentang dominasi Prancis. Pandangan politiknya ini berdampak pada kariernya, termasuk penugasan ke wilayah-wilayah terpencil sebagai bentuk pembatasan pengaruhnya.
Pada satu fase, ia membelot dari Tentara Timur dan memimpin pemberontakan bersenjata di Hama. Shishakli bahkan sempat menguasai benteng kota tersebut sebelum akhirnya menyerah setelah campur tangan militer Inggris yang mendukung Prancis.
Perjalanan militernya berjalan seiring dengan perjuangan Suriah meraih kemerdekaan, yang secara resmi tercapai pada tahun 1946. Setelah itu, Shishakli terus menanjak dalam hierarki militer dan turut terlibat dalam Perang Arab–Israel 1948.
Tahun 1949 menjadi titik balik besar ketika Suriah diguncang tiga kudeta militer dalam satu tahun. Dari rangkaian peristiwa tersebut, Shishakli tampil sebagai figur dominan dan akhirnya memegang kendali pemerintahan secara de facto, sebelum menjadi penguasa penuh hingga 1954.
Dalam masa pemerintahannya, Shishakli memposisikan diri sebagai pemimpin independen, tidak berpihak pada Blok Barat maupun Blok Timur. Ia mengusung agenda nasionalisme Suriah yang kuat dan menekankan kedaulatan negara.
Sejumlah kebijakan pembangunan dijalankan secara agresif. Listrik mulai menjangkau desa-desa, perusahaan asing dinasionalisasi, sektor industri dan pertanian dikembangkan, serta proyek strategis seperti pelabuhan Latakia dan pabrik gula didirikan.
Reformasi agraria juga menjadi bagian dari programnya, dengan pembagian tanah kepada para petani. Dalam kurun waktu singkat, Suriah disebut mengalami percepatan pembangunan yang signifikan dibandingkan beberapa negara tetangganya.
Namun, stabilitas ekonomi itu dibayar mahal dengan pembatasan politik. Shishakli memerintah dengan tangan besi, membatasi kebebasan sipil, membubarkan partai-partai, dan menindak kelompok Islam politik, termasuk Ikhwanul Muslimin, yang kemudian memposisikannya sebagai penguasa otoriter.
Ketegangan internal mencapai puncaknya pada tahun 1953 ketika terjadi pemberontakan bersenjata di wilayah Druze. Shishakli memandang gerakan itu sebagai ancaman langsung terhadap keutuhan negara dan merespons dengan operasi militer besar-besaran.
Desa-desa pemberontak dibombardir, dan langkah keras tersebut menuai kecaman luas. Sultan Pasha al-Atrash, tokoh terkemuka Druze, secara terbuka menyebut Shishakli sebagai diktator yang harus digulingkan.
Dalam konteks konflik itulah Shishakli melontarkan pernyataan terkenal yang kemudian sering dikutip, “Waspadalah terhadap orang-orang gunung,” merujuk pada kawasan Jabal Druze dan wilayah pegunungan Alawi. Pernyataan ini ditafsirkan beragam oleh sejarawan dan pengamat politik.
Bagi pendukungnya, ucapan itu mencerminkan kekhawatiran akan fragmentasi negara dan politik sektarian. Namun bagi para pengkritik, pernyataan tersebut dianggap memperuncing polarisasi dan memperdalam luka sosial di Suriah.
Tekanan politik yang kian besar akhirnya memaksa Shishakli mundur pada 1954 dan meninggalkan Suriah. Ia menjalani pengasingan panjang, hingga akhirnya menetap di Brasil.
Satu dekade setelah kejatuhannya, peta kekuasaan Suriah berubah drastis. Pada awal 1960-an, elite militer baru mengambil alih, dan dinamika politik lama kembali menghantui Shishakli di pengasingan.
Pada 27 September 1964, Shishakli tewas ditembak di Brasil. Pelaku pembunuhan diketahui bernama Nawaf Ghazaleh, seorang warga Druze, dalam sebuah peristiwa yang kemudian dikaitkan dengan dendam politik masa lalu.
Kematian Shishakli menutup babak hidup seorang tokoh yang dipandang sebagian kalangan sebagai pembangun negara, sementara oleh yang lain dianggap simbol otoritarianisme militer. Hingga kini, warisannya tetap menjadi perdebatan sengit dalam historiografi Suriah.
Kisah hidup dan akhir tragis Adib Shishakli memperlihatkan betapa rapuhnya fondasi politik Suriah pascakemerdekaan, serta bagaimana konflik kekuasaan, identitas, dan militerisme terus membentuk perjalanan negara tersebut hingga hari ini.


Tidak ada komentar