SSC-Khatumo Menantang Somaliland
Dinamika politik di Somalia utara kembali menguat seiring menguatnya posisi SSC-Khatumo dan mengemukanya tuntutan Awdal State di tengah dominasi politik Somaliland. Dua entitas ini kian menegaskan bahwa proyek separatis Somaliland tidak merepresentasikan seluruh wilayah dan klan di bekas Somalia Britania.
SSC-Khatumo muncul sebagai kekuatan politik dan militer yang berakar pada wilayah Sool, Sanaag timur, dan Togdheer timur. Wilayah ini selama bertahun-tahun diklaim oleh Somaliland, namun secara sosial dan genealogis dihuni oleh klan Dhulbahante yang memiliki orientasi politik berbeda.
Secara geografis, SSC-Khatumo berada di posisi strategis sekaligus terjepit. Di sebelah barat, wilayahnya berbatasan langsung dengan Somaliland yang tetap mengklaim kawasan tersebut sebagai bagian integral dari negara yang dideklarasikan sepihak. Di sisi timur, SSC-Khatumo berbatasan dengan Puntland yang tidak mengakui eksistensi SSC-Khatumo karena menganggap wilayah Dhulbahante sebagai bagian dari teritorialnya sendiri.
Di bagian selatan, SSC-Khatumo berbatasan dengan Region Somalia di Ethiopia. Letak ini menjadikan SSC-Khatumo bukan hanya persoalan domestik Somalia, tetapi juga memiliki implikasi lintas batas yang sensitif bagi stabilitas kawasan.
Konflik terbuka di Las Anod pada awal 2023 menjadi titik balik penting. Ketegangan yang berawal dari protes sipil berubah menjadi konfrontasi bersenjata antara pasukan lokal Dhulbahante dan aparat Somaliland. Dalam beberapa bulan, SSC-Khatumo berhasil menguasai sebagian besar wilayah klaimnya.
Pasukan SSC-Khatumo secara efektif membentuk garis depan baru sekitar 170 kilometer dari Las Anod, tepatnya antara desa Oog dan Guumays di Sool bagian barat. Keberhasilan ini mengakhiri kontrol de facto Somaliland di kawasan tersebut.
Perkembangan di lapangan memaksa pemerintah federal Somalia mengambil posisi. Pada 19 Oktober 2023, Mogadishu secara resmi mengakui SSC-Khatumo sebagai pemerintahan sementara. Pengakuan ini menjadi pukulan politik serius bagi klaim Somaliland atas wilayah timur.
Bagi SSC-Khatumo, pengakuan federal tersebut menegaskan bahwa mereka tidak memperjuangkan separatisme, melainkan integrasi dalam kerangka Somalia federal. Posisi ini membedakan mereka secara tajam dari Somaliland.
Langkah lanjutan terjadi pada 30 Juli 2025, ketika delegasi yang berkumpul di Las Anod mengumumkan rekonstruksi Khatumo sebagai Negara Bagian Somalia Timur Laut dengan nama Waqooyi Bari. Deklarasi ini menandai transformasi dari administrasi sementara menuju entitas federal permanen.
Sementara itu, di barat Somaliland, aspirasi Awdal State terus menguat. Wilayah Awdal yang didominasi klan Gadabuursi sejak lama menunjukkan ketidakpuasan terhadap dominasi politik klan Isaaq di Hargeisa.
Awdal State memposisikan diri sebagai entitas yang menolak separatisme Somaliland dan memilih jalur federalisme Somalia. Meski belum diakui secara formal oleh pemerintah pusat, gerakan ini mencerminkan fragmentasi internal yang semakin dalam di tubuh Somaliland.
Baik SSC-Khatumo maupun Awdal State sama-sama menantang narasi bahwa Somaliland adalah negara yang homogen dan bersatu. Keduanya memperlihatkan bahwa legitimasi Somaliland bersifat parsial dan berbasis klan tertentu.
Bagi Hargeisa, keberadaan SSC-Khatumo merupakan ancaman langsung terhadap klaim teritorial dan simbol kedaulatan. Hilangnya Las Anod dan wilayah sekitarnya secara drastis mengecilkan wilayah yang benar-benar berada di bawah kendali Somaliland.
Awdal State, meski belum menggunakan jalur militer seperti SSC-Khatumo, menghadirkan tantangan politik yang tak kalah serius. Penolakan pasif dari wilayah barat ini memperlemah klaim Somaliland atas akses pesisir strategis di Teluk Aden.
Dalam konteks politik klan Somalia, SSC-Khatumo dan Awdal State mencerminkan resistensi klan non-Isaaq terhadap dominasi sentral Hargeisa. Fenomena ini menegaskan bahwa konflik bukan semata soal negara versus negara, melainkan soal representasi dan distribusi kekuasaan.
Pemerintah federal Somalia melihat perkembangan ini sebagai peluang memperkuat kembali struktur federal di wilayah utara. Dukungan terhadap SSC-Khatumo dipandang sebagai upaya menyeimbangkan pengaruh Somaliland tanpa eskalasi regional yang lebih luas.
Sebaliknya, bagi Puntland, keberadaan SSC-Khatumo menciptakan dilema tersendiri. Meski sama-sama menolak Somaliland, Puntland masih mempertahankan klaim historis atas wilayah Dhulbahante.
Situasi ini menjadikan SSC-Khatumo berada di antara dua kekuatan yang saling bersaing, namun sama-sama tidak sepenuhnya menerima eksistensinya. Posisi ini mencerminkan kompleksitas politik Somalia utara yang berlapis-lapis.
Di mata pengamat internasional, munculnya SSC-Khatumo dan Awdal State memperkuat argumen bahwa Somaliland bukanlah entitas tunggal dengan dukungan menyeluruh. Klaim stabilitas sering kali tidak sejalan dengan realitas sosial-politik di lapangan.
Dengan perkembangan terbaru ini, peta politik Somalia utara semakin terfragmentasi. SSC-Khatumo dan Awdal State kini berdiri sebagai simbol perlawanan terhadap klaim sepihak Somaliland, sekaligus penanda bahwa masa depan kawasan itu masih jauh dari kata final.


Tidak ada komentar