Breaking News

Relasi Saudi–Indonesia tak Sesederhana Haji

Banyak pihak di Indonesia menilai investasi Arab Saudi ke Tanah Air belum sebanding dengan besarnya kontribusi jemaah haji Indonesia terhadap perekonomian Saudi. Persepsi ini kerap muncul karena Indonesia merupakan negara dengan jumlah jemaah haji terbesar di dunia yang setiap tahun datang ke Makkah dan Madinah.

Jumlah jemaah haji Indonesia memang sangat signifikan dan secara ekonomi menghasilkan pemasukan besar bagi Arab Saudi, mulai dari sektor penerbangan, akomodasi, katering, transportasi, hingga layanan lainnya. Hal ini kemudian menimbulkan asumsi bahwa Saudi seharusnya membalasnya dengan investasi besar di Indonesia.

Namun, asumsi tersebut sering dibandingkan secara langsung dengan hubungan Saudi dan Tiongkok, yang terlihat jauh lebih agresif dalam hal investasi, proyek industri, dan kerja sama bisnis strategis. Perbandingan ini sekilas tampak masuk akal, tetapi sebenarnya tidak setimpal.

Salah satu alasan utamanya adalah basis perbandingan yang berbeda. Jumlah jemaah haji Tiongkok memang jauh lebih sedikit dibandingkan Indonesia karena populasi Muslim di Tiongkok juga jauh lebih kecil. Dengan demikian, haji bukan variabel utama dalam hubungan ekonomi Saudi–Tiongkok.

Hubungan Saudi dengan Tiongkok terutama bertumpu pada sektor energi, khususnya minyak dan petrokimia. Tiongkok merupakan salah satu pembeli minyak terbesar Saudi dan mitra strategis dalam pengolahan, penyimpanan, serta hilirisasi energi.

Selain energi, relasi kedua negara juga mencakup kepentingan geopolitik dan pertahanan. Arab Saudi bahkan pernah membeli rudal balistik antarbenua DF-3 dari Tiongkok, sebuah sistem senjata strategis yang secara politik dan teknologi tidak mungkin dibeli oleh Indonesia.

Faktor ini menunjukkan bahwa kerja sama Saudi–Tiongkok berada pada level negara besar dengan kepentingan strategis global, bukan pada pertukaran berbasis layanan keagamaan seperti haji dan umrah.

Ketimpangan persepsi juga muncul karena Indonesia dinilai kurang memberikan keistimewaan atau insentif khusus bagi Arab Saudi dalam bidang investasi. Dalam banyak proyek nasional, Saudi tidak selalu ditempatkan sebagai mitra prioritas.

Contohnya terlihat pada proyek pesawat N250 yang sempat menjadi kebanggaan industri dirgantara Indonesia. Saat proyek itu mangkrak akibat krisis ekonomi dan politik, Indonesia sebenarnya memiliki peluang untuk mengajak Saudi sebagai investor atau bahkan mitra produksi bersama.

Dengan posisi Saudi yang saat itu memiliki likuiditas besar dari minyak, peluang tersebut seharusnya bisa dibuka sebagai kerja sama jangka panjang antara negara Muslim besar.

Hal serupa juga terjadi pada konsep lanjutan seperti N2130 atau pengembangan pesawat regional lainnya. Lagi-lagi, peluang itu tidak ditangkap dengan cepat dan agresif oleh Indonesia.

Akibat kurangnya inisiatif tersebut, justru negara lain seperti Pakistan dan India yang lebih banyak menikmati kerja sama industri strategis dengan negara-negara Timur Tengah, termasuk Saudi.

Pakistan misalnya, sejak lama menjadikan Saudi sebagai mitra finansial, energi, dan pertahanan. Hubungan ini dibangun melalui pendekatan negara ke negara yang jelas dan berkelanjutan.

India pun berhasil menawarkan dirinya sebagai mitra ekonomi yang menjanjikan, meski jumlah jemaah hajinya jauh lebih kecil dibandingkan Indonesia. Faktor utama keberhasilannya adalah konsistensi kebijakan dan kejelasan proyek investasi.

Indonesia, di sisi lain, sering bergerak lebih lambat dan terjebak dalam birokrasi serta perubahan kebijakan jangka pendek. Hal ini membuat banyak peluang strategis terlewatkan.

Selain itu, pendekatan Indonesia kepada Saudi selama ini lebih banyak berfokus pada isu haji, umrah, dan perlindungan tenaga kerja, bukan pada tawaran proyek industri besar yang saling menguntungkan.

Padahal, Saudi dalam satu dekade terakhir sedang melakukan transformasi ekonomi besar melalui visi diversifikasi, industri, dan teknologi, yang seharusnya bisa dimanfaatkan Indonesia.

Kurangnya diplomasi ekonomi yang agresif membuat Indonesia tertinggal dalam memosisikan diri sebagai mitra strategis Saudi di luar sektor keagamaan.

Oleh karena itu, membandingkan langsung investasi Saudi ke Indonesia dengan besarnya jumlah jemaah haji dinilai tidak adil dan tidak relevan. Kedua hal itu berada dalam kerangka hubungan yang berbeda.

Ke depan, hubungan Indonesia–Saudi hanya akan seimbang jika Indonesia mampu menawarkan proyek strategis, insentif nyata, dan visi kerja sama jangka panjang yang jelas.

Tanpa perubahan pendekatan tersebut, Indonesia akan terus menjadi pasar dan mitra keagamaan besar, tetapi bukan mitra investasi utama bagi Arab Saudi.

Tidak ada komentar